Algoritma Facebook Memecah Belah NKRI


Facebook adalah media pertemanan atau pergaulan secara online di dunia maya (internet), pengguna akan terhubung dengan yang lainnya secara real time dan dapat berbagi informasi, serta berkomunikasi. 

Yang namanya media pertemanan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, mejalin keakraban, bertukar informasi dan menebarkan nilai-nilai positif, jelas bukan malah menjadi sarana menyebarluaskan permusuhan, memecah-belah persatuan dan kesatuan NKRI dan ajang caci-maki. 

Penggunaan media sosial sebagai alat provokasi, ujaran kebencian dan caci-maki semakin menjadi-jadi setelah Facebook merubah algoritma penyeleksian konten yang muncul di halaman beranda Facebook dari yang dulunya berbasis timeline (waktu), berubah menjadi filter histori riwayat aktivitas masa lalu (Filter Buble Effect) penggunanya. 

Sehingga yang muncul pertama kali bukan postingan terdahulu sesuai dengan waktu melainkan sesuai dengan minat dan histori pengguna.

Agar Facebook dapat menampilkan informasi atau berita sesuai dengan minat pengguna, maka algoritma Filter Buble Effect mengumpulkan informasi seperti lokasi, riwayat klik, riwayat like, riwayat komentar, riwayat bacaan dan seluruh riwayat browsing di internet.

Tidak mengherankan ketika membuka Facebook banyak terdapat iklan-iklan yang sesuai dengan history pencarian, dan riwayat klik pengguna. Misalnya ketika pengguna pernah membuka buka situs traveloka untuk mencari harga tiket pesawat. Kemudian entah kenapa ketika membuka facebook, iklan tiket pesawat yang pernah di cari di internet muncul di halaman beranda facebook. 

Algoritma Filter Buble Effect juga berlaku untuk berita-berita yang akan muncul di beranda facebook pengguna. Facebook akan menampilkan informasi berita sesuai dengan riwayat klik, riwayat like, riwayat share, riwayat komentar, riwayat bacaan, dan riwayat pencarian sesuai dengan algoritma tadi.

Karena algoritma penyaringan ini (Filter Buble Effect), pengguna akan menjadi terpisah dari informasi yang tidak selaras/kontradiktif dengan sudut pandang (riwayat pencarian)-nya. Pengguna akan dipaksa hidup dalam dunia sendiri yang sesuai dengan riwayat bacaan atau pandangannya. 

Facebook akan cenderung memberikan informasi yang familiar, disukai, dan menyenangkan sesuai kepercayaan. Akibatnya yang pro semakin pro dan yang kontra menjadi semakin kontra. 

Informasi atau berita yang bertentangan semakin dijauhkan bahkan meskipun berita tersebut konstruktif dan mengkritik tidak akan sampai di halaman beranda Facebook atau ke newsfeed pengguna.

Misalnya seseorang suka sekali mengklik berita tentang hebatnya ajaran radikal dengan segala kelebihan dan kebenarannya (menurut dia) maka mesin-mesin facebook, akan terus menyuguhkan informasi tentang kehebatan ajaran radikal karena jenis berita seperti ini dianggap penting bagi pengguna tersebut, dan algoritma itu akan menyisihkan berita-berita lain yang bertentangan karena dianggap tidak penting. Maka tidak mengherankan banyak radikalisme dan terorisme lahir dari rahim Facebook. 

1. Harusnya seperti inilah internet, anda berada di tengah-tengah jutaan informasi yang beragam Baik yang anda diminati atau tidak, sepakat maupun bertentangan dengan pandangan anda
2. Lalu karena cara kerja filter algoritma, secara otomatis pengguna disodori informasi yang memang di suka (berdasarkan histori anda). Awalnya memang akan memudahkan tapi tanpa disadari (karena anda tidak sadar sedang di filter) tercipta sebuah gelembung tak terlihat yang memisahkan anda dari pendapat-pendapat diluar pendapat utama atau prior belief anda
3. Akhirnya, anda merasa memiliki pemahaman yang paling benar sendiri, fanatik dan bebal terhadap kritik .Tercipta sebuah ilusi sedemikian rupa karena anda memang hanya bisa melihat informasi yang mendukung belief awal, disodori dan disuapi opini yang pro belief utama anda.
Filter buble effect juga bekerja dengan cara lain, misalnya tentang isu ahok, maka di beranda facebook atau newsfeed pengguna muncul beberapa berita tentang Ahok baik pro dan kontra, kemudian menjadi tergoda untuk mengklik, mereview, memberikan komentar. Histori itu akan membuat algoritma facebook beranggapan bahwa berita Ahok itu penting dan sesuai dengan minat anda akibatnya berita-berita lain di luar itu akan sengaja dihilangkan oleh facebook. 

Akhirnya pengguna hanya membaca dan mengklik berita itu-itu saja, kemudian berita itupun itu pun menjadi viral. Orang lain pun melakukan proses yang sama, akhirnya, timbul efek bola salju yang membuat negeri kita semakin panas merasa bahwa negeri ini penuh dengan kebencian, perbedaan yang tidak bisa dikompromikan. 

Seolah-olah tidak ada berita lain yang di share di Facebook, padahal kalau di cek, banyak berita lain yang di share, tapi kenapa di halaman beranda Facebook tidak terlihat berita itu? malah lebih banyak kasus ahok? yaaa kita semua terkena filter bubble effect. 

Jangan sampai cara berpikir dan tindakan kita di dunia nyata dikendalikan oleh sebuah algoritma yang dapat memecah belah NKRI.

Semoga kita bijak dalam membaca dan mengelola informasi. Salam Damai.

Post a Comment

0 Comments