Jenis Sumber Air Minum


Indonesia yang berada di wilayah iklim tropis hanya memiliki dua musim, yaitu penghujan dan kemarau. Perubahan musim secara langsung berdampak pada jumlah air di perairan. Pada musim penghujan, jumlah air sangat berlimpah. 

Pada musim kemarau jumlah air terbatas. Tak jarang, beberapa daerah di wilayah Indonesia mengalami bencana kekeringan saat kemarau melanda. Aliran air dipengaruhi juga oleh tata guna lahan di permukaan bumi. 

Penggunaan resapan dan penahan air, seperti sumur resapan, waduk, dan danau yang mampu menahan dan menampung hujan menjadi sangat bermanfaat kala kemarau datang. Dengan begitu, sumur resapan, waduk, dan danau menjadi sasaran utama mendapatkan air di kala kemarau. 

Keberadaan air dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas resapan dan penampung air pada musim penghujan. Dengan membuat dan mendayagunakan sumur resapan secara baik dan benar, kebutuhan akan air saat kemarau dan kekeringan melanda bukan menjadi sebuah masalah yang berarti.

Secara keseluruhan, air yang terdapat di permukaan bumi membentuk sebuah Iingkaran (siklus) air. Air di lautan, sungai, sumur, danau, dan waduk akan menguap menjadi uap air karena panas. Titik uap air akan bergerombol membentuk awan. 

Kandungan uap air di awan akan terkondensasi menjadi butiran-butiran air hujan. Selanjutnya, hujan membasahi permukaan bumi dan meresap menjadi air tanah dan membentuk mata air, sumur, danau ataupun mengalir melewati sungai menuju lautan. Sikius air tersebut akan berputar terus-menerus.


A. Air laut

Air laut memiliki rasa asin karena mengandung senyawa garam murni (NaCI) yang cukup tinggi. Menurut beberapa sumber penelitian, kadar garam murni air laut berkisar 3% jumlah total keseluruhan air laut. Karena rasanya yang asin, untuk menjadikan air laut sebagai air minum diperlukan sebuah teknologi terapan untuk memfilter sekaligus destilasi (penyulingan) air untuk menghilangkan kadar garam yang tinggi. 

Untuk saat ini, beberapa negara di Timur Tengah (misaInya, Iran) telah mengembangkan teknologi filterisasi dan destilasi yang mampu mengubah air laut menjadi air minum. Untuk mengembangkan teknologi filterisasi dan destilasi air laut dibutuhkan dana yang cukup besar. 

Di samping itu, filterisasi dan destilasi air laut membutuhkan pasokan energi listrik yang besar. Penggunaan destilasi air laut merupakan langkah tepat dan efisien untuk mengatasi suplai air minum di negara-negara kering, seperti di Timur Tengah dan Afrika. 

Namun, perlu disadari saat ini perairan laut seperti ‘tong sampah’. Hal ini terjadi akibat ulah manusia yang membuang limbah berbahaya di perairan laut lepas. Selain itu, tidak jarang ribuan barel minyak tertumpah di lautan akibat kecerobohan manusia, seperti tabrakan maupun kebocoran kapal tanker. 

Hal itu jelas berdampak buruk pada ekosistem laut dan kualitas air destilasi yang dihasilkan.

B. Air Hujan

Air hujan merupakan hasil proses penguapan (evaporasi) air di permukaan bumi akibat pemanasan oleh sinar matahari. Dalam keadaan ideal (tanpa pencemaran air), air hujan merupakan air bersih dan dapat langsung dikonsumsi oleh manusia. 

Namun, pada saat evaporasi berlangsung, air yang menguap sudah tercemar. Selain itu, air hujan yang turun juga ‘tercemar’ oleh polusi udara. Akibatnya, air hujan tidak bersifat netral (pH = 7) lagi, melainkan bersifat asam. 

Hujan yang bersifat asam dapat menyebabkan korosi (karat) pada benda yang berbahan logam. Selain bersifat asam, air hujan cenderung bersifat sadah karena kandungan kalsium dan magnesiumnya cukup tinggi. 

Indikasi air sadah (kesadahan) adalah sabun atau deterjen tidak dapat beraksi dengan air. Akibatnya, sabun atau deterjen tidak berbusa walaupun dilarutkan dengan air. Dengan demikian, air sadah dapat memboros penggunaan sabun mandi atau sabun cuci. Selain kalsium dan magnesium, air hujan juga mengandung beberapa senyawa dan unsur (mineral), antara lain SO4, CI, NH3, N2, C, dan O2.

C. Air Permukaan

Air permukaan adalah semua air yang terdapat di permukaan tanah, antara lain sumur, sungai, rawa, dan danau. Air permukaan berasal dan air hujan yang meresap dan membentuk mata air di gunung atau hutan, kemudian mengalir di permukaan bumi dan membentuk sungai atau mengumpul di tempat cekung yang membentuk danau ataupun rawa. 

Pada umumnya, air permukaan tampak kotor dan berwarna (tidak bening). Hal itu terjadi akibat kotoran, pasir, dan lumpur yang ikut terbawa (hanyut) oleh aliran air.

Air permukaan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan, antara lain untuk diminum, kebutuhan rumah tangga, irigasi, pembangkit listrik, industri, dan sebagainya.

Agar dapat diminum, air permukaan harus diolah terlebih dahulu, meliputi pengolahan fisika, kimia, dan biologi. Air permukaan dibagi menjadi dua, yaitu air sungai dan air danau atau rawa.

a. Air Sungai

Air sungai berasal dan mata air dan air hujan yang mengalir pada permukaan tanah. Secara fisik, air sungai terlihat berwarna cokelat dengan tingkat kekeruhan yang tinggi karena bercampur dengan pasir, lumpur, kayu, dan kotoran lainnya. 

Kualitas air sungai juga dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar aliran sungai. Secara umum, kualitas air sungai di daerah hulir (muara) lebih rendah dibandingkan di daerah hulu (mata air). Hal ini terjadi akibat limbah industri dan rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu terkumpul di muara sungai. 

Akibatnya, secara kualitas fisika, kimia, maupun biologi, air di daerah muara sungai sangat rendah dan tidak layak dijadikan bahan baku air minum.

b. Air Danau atau Rawa

Air danau atau rawa merupakan air permukaan yang mengumpul pada cekungan permukaan tanah. Permukaan air danau biasanya berwarna hijau kebiruan. Warna ini disebabkan oleh banyaknya lumut yang tumbuh di permukaan air maupun di dasar danau atau rawa. 

Selain lumut, warna pada air danau juga dipengaruhi oleh bahan organik (kayu, daun, dan bahan organik lainnya) yang membusuk akibat proses dekomposisi oleh mikroorganisme di da lam air. 

Akibat proses pembusukan tersebut, air danau memiliki kadar besi (Fe) dan mangan (Mn) yang relatif tinggi. Kebanyakan, air danau memiliki kualitas yang lebih baik daripada air sungai. Hal tersebut disebabkan tingkat pencemaran di danau relatif lebih kecil dibandingkan di aliran sungai.

D. Air Tanah

Menurut definisi Undang-undang Sumber Daya Air, air tanah merupakan air yang terdapat di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Air tanah berasal dari air hujan yang meresap ke dalam tanah. 

Dalam proses peresapan tersebut, air tanah mengalami penya ringan (filtrasi) oleh lapisan-lapisan tanah. Air tanah lebih jernih dibandingkan air permukaan. Air tanah memiliki kandungan mineral yang cukup tinggi. 

Sifat dan kandungan mineral air tanah dipengaruhi oleh lapisan tanah yang dilaluinya. Kandungan mineral air tanah antara lain Na, Mg, Ca, Fe, dan O2.

Kondisi tanah yang berkapur menyebabkan tingkat kesadahan air tanahnya relatif tinggi (keras). Air tanah di daerah berkapur mengandung ion-ion Ca2 dan Mg2 dalam jumlah yang cukup besar. Kondisi tanah yang mengandung batu granit, air tanahnya memiliki derajat kesadahan yang rendah (lunak) karena mengandung unsur (mineral) CO2 dan Mn(HCO3).

Air tanah digolongkan menjadi tiga, yaitu air tanah dangkal, air tanah dalam, dan mata air. Golongan tersebut berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan mineral yang terkandung di air tanah.

a. Air Tanah Dangkal

Air tanah dangkal terdapat pada kedalaman kurang lebih 15 meter di bawah permukaan tanah. Jumlah air yang terkandung pada kedalaman ini cukup terbatas. Biasanya hanya digunakan untuk keperluan rumah tangga, seperti minum, mandi, dan mencuci. Penggunaan air tanah dangkal berupa sumur berdinding semen maupun sumur bor. 

Secara fisik, air tanah terlihat jernih dan tidak berwarna (bening) karena telah mengalami proses filtrasi oleh lapisan tanah. Kualitas air tanah dangkal cukup baik dan layak digunakan sebagai bahan baku air minum. Kuantitas air tanah dangkal dipengaruhi oleh musim. Pada saat musim hujan, jumlah air tanah dangkal berlimpah, tetapi jumlahnya terbatas saat musim kemarau.

b. Air Tanah Dalam

Air tanah dalam terdapat pada kedalaman 100-300 meter di bawah permukaan tanah. Air tanah dalam berwarna jernih dan sangat baik digunakan sebagai air minum karena telah mengalami proses penyaringan berulang-ulang oleh lapisan tanah. 

Air tanah dalam memiliki kualitas yang Iebih baik daripada air tanah dangkal. Hal ini disebabkan proses filtrasi air tanah dalam lebih panjang, lama, dan sempurna dibandingkan air tanah dangkal. 

Kuantitas air tanah dalam cukup besar dan tidak terlalu dipengaruhi oleh musim, sehingga air tanah dalam dapat digunakan untuk kepentingan industri dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama.

c. Mata air

Mata air adalah air tanah yang keluar langsung dan permukaan tanah. Mata air biasanya terdapat pada lereng gunung, dapat berupa rembesan (mata air rembesan) dan ada juga yang keluar di daerah dataran rendah (mata air ‘umbul’).

Mata air memiliki kualitas air hampir sama dengan kualitas air tanah dalam dan sangat baik untuk air minum. Selain untuk air minum, mata air dapat digunakan untuk keperluan lainnya, seperti mandi dan mencuci. Kuantitas air yang dihasilkan oleh mata air cukup banyak dan tidak dipengaruhi oleh musim, sehingga dapat digunakan untuk kepentingan umum dalam jangka waktu lama.

Post a Comment

0 Comments