Organ Reproduksi Wanita dan Fungsinya

Organ Reproduksi Wanita
Setiap wanita harus mengenal apa saja organ reproduksi dan fungsinya masing-masing. Hal ini dilakukan guna memperbesar dan memperlancar wanita memperoleh keturunan. Bila dibandingkan dengan pria, organ reproduksi wanita lebih rumit karena terdiri dari beberapa kelenjar yang mempunyai peran masing masing.

Organ reproduksi wanita memiliki fungsi yang berbeda dengan laki-laki. secara alamiah yang membedakannya adalah; menstruasi, kehamilan, kelahiran, menyusui, serta menopause.

1. Menstruasi

Menstruasi pertama seorang wanita biasanya terjadi antara usia 9-16 tahun dengan 2 tahun sebelumnya adalah periode pematangan. Rangkaian peristiwa yang terjadi pada periode pematangan antara lain pertumbuhan tinggi badan yang pesat, perkembangan payudara, serta pertumbuhan rambut di daerah ketiak dan kelamin.

Siklus menstruasi diatur oleh interaksi hormonal dan organ reproduksi yang kompleks. Secara umum, jarak siklus dari satu menstruasi ke menstruasi berikutriya berkisar 21-35 hari dengan rata-rata 28 hari.

Tidak heran jika ada istilah ‘datang bulan’ karena menstruasi terjadi hampir setiap bulan. Setiap wanita sebaiknya tahu siklus menstruasinya, setiap 21, 28, atau 35 hari sekali. Hal ini berguna untuk memperkirakan saat yang tepat bila kehamilan, taksiran persalinan, dan yang lebih penting dapat mengetahui lebih dini bila terdapat gangguan pada sikius menstruasi.

Cara mudah mengetahui sikius menstruasi adalah dengan menggunakan kalender. Tandailah hari pertama mulai menstruasi setiap bulannya, minimal 3 kali menstruasi. Kemudian, hitung berapa hari jarak antara hari pertama menstruasi bulan pertama ke bulan berikutnya.

Hasilnya diambil rata-rata dari 3 siklus pengamatan. Gangguan sikius menstruasi dapat berupa haid datang lebih awal, terlambat, atau justru tidak haid sama sekali. Salah satu peyebabnya adalah gangguan hormonal. Penyebab lainnya adalah kelainan pertumbuhan dan perkembangan, genetik, pola diet, stres, dan gaya hìdup.

Kondisi tidak haid dapat saja merupakan suatu hal yang normal pada prapubertas, menopause, kehamilan, dan bulan-bulan pertama menyusui. Namun, jika hal ini terjadi selama 3-6 bulan pada wanita yang telah mengalami siklus menstruasi sebelumnya dan tidak ada kehamilan, perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya agar penangannya tepat.

Untuk memastikan gangguan siklus, perlu dilakukan pencatatan waktu: hari pertama haid, lama haid, dan jarak antara hari pertama haid dengan hari pertama haid beriikutnya. Pencatatan ini minimal dilakukan selama 3 bulan dan harus ditunjukkan pada dokter saat berkonsultasi.

Dokter akan melakukan pemeniksaan terhadap organ reproduksi serta pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar hormon dalam tubuh.

Lama menstruasi bervariasi antara 2-8 hari. Jenis perdarahan menstruasi juga bervariasi, ada yang berupa bercak-bercak kehitaman, lendir bercampur darah, atau darah merah segar. Terkadang, dijumpai juga gumpalan cokelat-kehitaman yang merupakan lapisan endometrium yang mengelupas.

Jumlah darah yang hilang saat menstruasi berkisar 30-80 ml. Tidak ada hubungan antara lama menstruasi atau banyaknya darah yang keluar dengan faktor kesuburan seseorang.

Jika payudara terasa kencang, pegal-pegal, dan merasa mudah tersinggung, mungkin Anda tengah mengalami premenstrual syndrome (PMS). PMS atau sindrom pramenstruasi merupakan sekumpulan gejala yang muncul terkait siklus haid.

Biasanya muncul 1-2 minggu sebelum menghilang setelah haid mulai. Sindrom ini bisa muncul pada wanita usia reproduksi dan hilang setelah menopause.

PMS diduga terjadi karena perubahan hormonal selama sikius menstruasi. Gejala PMS bisa bervariasi antara wanita satu dengan Iainnya. Bisa saja yang satu mempunyai gejala lebih berat, sedangkan yang lain relatif tidak terganggu.

Sekitar 85% wanita pernah mengalami minimal satu gejala PMS dalam sikius haidnya. Terapi untuk PMS tergantung pada jenis dan berat-ringannya gejala. Jika memang diperlukan, dokter akan memberikan terapi hormon untuk mengurangi dan menghilangkan gejala.

Nyeri haid atau disebut juga dismenore terjadi karena kejang otot rahim. Rasa nyeri ini bervariasi antara satu wanita dengan wanita lainnya. Nyeri ini tidak membahayakan, tetapi dapat mengganggu dan mengurangi produktivitas wanita dalam bekerja, sekolah atau olahraga.

Nyeri haid disebabkan adanya gangguan pada organ reproduksi atau faktor hormonal dan bukan semata karena faktor psikologis. Nyeri haid tanpa kelainan pada organ reproduksi termasuk dalam nyeri haid primer.

Biasanya, nyeri mulai terjadi setelah 6-12 bulan menstruasi yang pertama, saat siklus haid sudah teratur. Nyeri haid ini dapat muncul beberapa jam sebelum menstruasi hingga han ke-2 menstruasi. Pada sebagian wanita, nyeri haid berkurang setelah melahirkan.

Selain nyeri haid primer, ada pula nyeri haid sekunder. Penyebab nyeri haid sekunder diketahui karena ada masalah di organ reproduksi seperti endometriosis, tumor pada rahim, atau adanya peradangan kronik pada panggul bagian dalam.

Pemakaian alat kontrasepsi IUD juga dapat menimbulkan nyeri haid pada sebagian orang. Nyeri haid sekunder muncul pada usia 20-30 tahun. Pengobatan untuk nyeri haid primer dapat diberikan obat pereda nyeri yang banyak dijual bebas.

Jika dengan obat tersebut nyeri tidak berkurang, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat pereda nyeri yang lebih kuat atau dosis lebih tinggi. Dokter juga mungkin akan memberikan hormon, biasanya seperti pil KB, untuk membuat haid lebih teratur dan mengurangi nyeri.

Nyeri juga dapat berkurang dengan pengompresan perut bagian bawah dengan air hangat atau pemberian suplemen vitamin B dan E serta minyak ikan. Adapun untuk nyeri haid sekunder, pereda nyeri kurang efektif karena yang paling tepat adalah mengatasi kelainan yang mendasarinya.

2. Kehamilan

Kehamilan dapat terjadi jika sel telur yang dilepaskan indung telur dibuahi oleh sel sperma. Hasil penyatuan kedua sel tersebut akan mengalami proses pembelahan untuk menggandakan jumlah sel sembari “berjalan” menyusuri saluran telur menuju ke rahim dan melekat di sana sebagai embrio dan fase kehamilan dimulai.

Proses kehamilan melibatkan rangkaian reaksi hormonal yang kompleks yang bertujuan untuk melindungi dan mendukung kehidupan embrio. Tubuh pun mengalami perubahan, menyesuaikan diri untuk tujuan tersebut.

Saat kehamilan berusia muda, perubahan bentuk tubuh tidak terlihat nyata. Perut belum terlihat membuncit karena ukuran rahim pun belum begitu besar, sekitar sekepaIan tangan pada usia kehamilan 3 bulan.

Pada awal kehamilan, payudara sudah mulai terasa kencang dan tegang karena mulai terjadi perkembangan kelenjar susu. Puting susu akan terlihat lebih hitam dan melebar. Keluhan yang kerap muncul pada sebagian besar wanita adalah mual dan muntah. Keluhan ini terjadi karena pengaruh hormon kehamilan pada saluran cerna.

Tiga bulan pertama merupakan saat yang rawan karena tengah terjadi pembentukan organ-organ janin. Hindari sinar rontgen dan hanya minum obat yang aman untuk ibu hamil agar janin terhindar dari kecacatan.

Keberadaan janin dapat dirasakan sang ibu saat usia kehamilan 4-5 bulan. Gerakan yang dirasakan biasanya berupa denyutan yang muncul sewaktu-waktu di perut bagian bawah. Pembentukan organ tubuh janin telah selesai dan janin mulai membesar.

Perut ibu akan muiai terlihat membuncit dan timbunan lemak mulai tampak di bagian perut, panggul dan paha. Keluhan mual dan muntah biasanya telah Surut dan nalsu makan ibu mulai membaik, bahkan bagi sebagian wanita, meningkat.

Idealnya, ibu memeriksakan kehamilan secara teratur ke bidan, dokter, atau dokter spesialis kebidanan setiap bulan sekali dan setiap 2 minggu sekali pada bulan ke 8-9 menjelang persaiinan. Ini penting untuk memonitor perkembangan sang janin dan kesehatan sang ibu.

Memasuki usia kehamilan 7-9 bulan, kecepatan pertumbuhan bayi dalam rahim meningkat. Berat badan ibu akan bertambah banyak pada saat tersebut. Perut akan semakin terlihat membuncit dan payudara semakin bertambah membesar.

Keluhan yang sering dirasakan adalah nyeri pada perut bagian bawah dan daerah lipat paha. Hal ini karena terjadi peregangan otot-otot dan jaringan penggantung rahim sebagai kompensasi menyangga sang bayi.

Keluhan nyeri pinggang sering dialami oleh ibu hamil. Hal ini wajar saja mengingat ibu hamil sebetulnya tengah “menggendong” bayi dalam rahim sela ma 24 jam nonstop.

Saat kehamilan, ibu harus mengonsumsi makanan yang berg izi agar janin mendapat nutrisi yang baik sehingga pertumbuhan dan perkembangannya berlangsung dengan baik. Hal ini juga untuk menjamin ibu agar sehat dan kuat saat persalinan.

Selama kehamilan, berat badan akan naik sekitar 8-12 kg. Timbunan lemak akan muncul di daerah perut, panggul, pantat, dan paha, sebagai cadangan energi selama kehamilan dan menyusui.

Tanda-tanda peregangan kulit (strech marks) dapat terlihat di perut atau paha atas. Peningkatan berat badan, jumlah lemak, dan pembesaran perut akan memunculkan garis-garis sebagai akibat kulit yang teregang. Strech marks ini bisa dicegah dengan pemberian krim anti-strech marks pada awal kehamilan.

3. Masalah Saat Kehamilan

Kehamilan harus dijaga dengan sebaik-baiknya, karena tidak saja untuk kesehatan sang bayi, tetapi yang lebih penting adalah menjaga kesehatan dan keselamatan ibu hamil. Angka kematian ibu terkait proses kehamilan dan persalinan di Indonesia merupakan yang tertinggi se-Asia Tenggara.

Faktor risiko yang dapat menimbulkan masalah pada kehamilan dan persalinan antara lain usia ibu saat melahirkan terlalu lanjut atau terlalu muda, jumlah anak lebih dan 5 anak, serta jarak antara kehamilan satu dengan kehamilan berikutnya kurang dari 2 tahun.

a. Perdarahan

Keluarnya darah bercampur lendir berwarna merah muda dari vagina pada usia kehamilan lanjut merupakan salah satu tanda persalinan. Sedikit perdarahan juga akan muncul setelah berhubungan seks dengan suami.

Namun, perdarahan harus diwaspadai oleh ibu hamil adalah bila darah keluar cukup banyak menunjukkan adanya masalah. Faktor tersering yang menyebabkan perdarahan adalah letak plasenta yang rendah.

Normalnya, plasenta tenletak di bagian atas rahim. Namun, tidak menutup kemungkinan, letak plasenta dekat dengan jalan lahir. Ini akan membahayakan keselamatan ibu sehingga operasi sesar akan menjadi pilihan persalinan.

Munculnya flek-flek perdarahan pada awal kehamilan disertai rasa kram atau tegang di perut bawah harus diwaspadai Juga karena bisa jadi merupakan tanda ‘ancaman’ keguguran.

b. Pecah ketuban

Normalnya, kulit ketuban akan pecah saat proses persalinan berlangsung dan air ketuban akan keluar. Prosesnya bisa terjadi spontan atau dipecahkan oleh penolong persalinan untuk memudahkan bayi keluar. Jika air ketuban keluar tiba-tiba di luar proses persalinan, maka segeralah periksa ke dokter untuk penanganan agar tidak terjadi infeksi.

Kulit ketuban yang utuh merupakan pertahanan untuk keselamatan bayi dan bu. Kadang, sulit membedakan air ketuban atau air kencing yang keluar. Oleh karenanya, bila curiga dan ragu ragu periksalah ke dokter.

c. Nyeri dan kontraksi

Nyeri hebat yang timbul pada kehamilan usia lanjut yang terjadi akibat peregangan jaringan penggantung rahim biasanya dirasakan di sekitar lipat paha. Waspadai lah jika tiba-tiba terasa nyeri yang hebat atau di luar biasanya.

Terlebih jika nyeri disertai rahim yang tegang. Bisa jadi penyebabnya adalah lepasnya sebagian plasenta. Jangan ditunda, segera periksa ke dokter, Kontraksi rahim yang berlangsung secara ritmis kadang menyebabkan perut terasa kencang.

Gejala ini biasa muncul pada bulan-bulan akhir kehamilan. Selama jarak waktu hilang-timbulnya kontraksi cukup lama dan muncul kadang-kadang, hal ini masih normal. Namun, jika kontraksi makin lama makin kuat dan makin sering, sedangkan tanggal taksiran persalinan masih jauh, harus diwaspadai ancaman kelahiran prematur dan harus segera periksa ke dokter.

Jika memungkinkan, dokter akan memberikan penanganan untuk menunda persalinan hingga mendekati waktu yang cukup.

d. Preeklampsia dan eklampsia

Preeklampsia merupakan sekumpulan gejala pada ibu hamil berupa tekanan darah tinggi, bengkak tubuh yang berlebihan, adanya protein dalam urin (berdasarkan pemeriksaan laboratorium). Gejala lain seperti nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan (seperti pandangan kabur dan ada bintik-bintik hitam), serta peningkatan berat badan yang berlebihan dalam waktu yang singkat, juga harus dicurigai merupakan preeklampsia.

Preeklampsia dapat memburuk menjadi eklampsia, yakni gejala preeklampsia disertai hipertensi berat, bahkan kejang. Kondisi ini membahayakan keselamatan ibu dan bayi dan merupakan salah satu kontributor tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Pemeriksaan kehamilan yang rutin dan teratur penting dilakukan untuk mendeteksi kelainan ini.

e. Prematur

Kelahiran bayi prematur memerlukan perawatan khusus mengingat sang bayi belum siap untuk hidup di luar rahim. Penanganan dan perawatan bayi prematur yang tepat dapat meningkatkan angka kehidupan serta menghindarkan kecacatan pada sang bayi.

4. Persalinan

Memasuki 37-42 minggu usia kehamilan, bayi dalam rahim telah siap untuk dilahirkan. Tubuh sang ibu pun akan mulai mengalami penyesuaian untuk mempersiapkan persalinan. Adanya jarak antara perut yang menbuncit dengan payudara, yang sebelumnya tidak tampak, menunjukkan bayi mulai “turun”.

Artinya, kepala bayi sudah di pintu atas panggul. Pada minggu-minggu ini, perut mulai terasa kencang yang berlangsung kurang dan 1 menit dan muncul sesekali. Kondisi ini menunjukkan rahim mulai mengalami kontraksi.

a. Persiapan

Sebaiknya, pada minggu-minggu akhir, ibu dan suami telah mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan persalinan. Termasuk di antaranya menyiapkan dana, memilih dan menentukan tempat untuk melahirkan, serta orang yang akan menolong proses persalinan (bidan, dokter atau dokter spesialis kebidanan).

Hal yang cukup penting juga adalah menyiapkan pakaian untuk ibu dan bayi, juga ayah, keperluan mandi, kain gendong, serta keperluan sang ibu sehari-hari seperti bedak, pelembap, losion, krim pembersih, dan lain-lain. Pernak-pernik ini sebaiknya sudah dikemas dalam tas yang mudah dibawa jika sewaktu-waktu tanda-tanda persalinan sudah makin jelas.

b. Tanda persalinan

Tanda-tanda awal persalinan dimulai dengan munculnya kontraksi di daerah perut yang timbul makin sering dengan intensitas yang makin kuat. Mula-mula, kontraksi akan timbul setiap jam sekali, kemudian bertahap akan semakin kerap kemunculannya menjadi setiap setengah jam, setiap 15 menit, hingga akhirnya setiap 5 menit sekali perut mengalami kontraksi.

Demikian juga dengan intensitasnya. Jika mula-mula lama kontraksi 20 detik, bertahap akan meningkat menjadi 30 detik, 40 detik hingga 50-60 detik. Tanda lainnya adalah keluarnya lendir bercampur darah dari jalan lahir, berwarna merah muda.

Lendir ini bisa saja keluar beberapa hari sebelumnya, sehingga memberikan tanda-tanda palsu persalinan. Namun, tanda lebih pasti persalinan adalah kontraksi yang makin sering dan kuat.

Seiring kontraksi, leher rahim juga mulai melunak dan membuka. Pembukaan leher rahim berlangsung secara bertahap, mulai dan 1 cm hingga pembukaan lengkap 10 cm, yang memakan waktu 6 jam untuk ibu yang pernah melahirkan sebelumnya atau 12-24 jam untuk persalinan pertama. Setelah pembukaan lengkap, dengan dorongan dari dalam tubuh yang ditimbulkan sang ibu dengan mengejan maka sang bayi pun akan keluar.

c. Plasenta

Setelah sang bayi dilahirkan dan tali pusat dipotong, putuslah hubungan ibu-janin secara fisik. Namun, masih ada satu proses penting yang harus dilalui sang ibu, yakni “kelahiran” plasenta atau sering disebut dengan ari-ari. 
 
Plasenta akan lepas spontan 5-15 menit pasca persalinan bayi dan biasanya diikuti perdarahan yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Namun, perdarahan ini akan berkurang setelah ibu mendapatkan obat yang membuat otot-otot rahim berkontraksi dan menjepit pembuluh darah. Jika terdapat robekan atau sobekan pada jalan lahir, dokter akan menjahit untuk merapatkan luka.

5. Masalah Saat Persalinan
Persalinan adalah suatu proses yang alamiah dan dapat berlangsung spontan, bahkan tanpa dibantu siapa pun. Ini terbukti dari berita yang pernah kita dengar bahwa ada ibu yang melahirkan seorang diri di sawah, kamar mandi, bahkan dalam taksi menuju perjalanan ke rumah bersalin.

Kewaspadaan diperlukan dalam setiap proses persalinan karena bisa saja terjadi kelainan atau proses yang tak wajar dalam tahapan persalinan. Beberapa masalah yang terdeteksi selama kehamilan dapat membantu persalinan berlangsung dengan aman.

a. Panggul sempit

Jika panggul sang ibu diketahui sempit dan bayi yang dikandurig cukup besar, maka persalinan direncanakan melalui operasi sesar karena sang bayi akan kesulitan jika dilahirkan secara normal.

b. Bayi melintang

Jika letak bayi melintang di dalam rahim (seharusnya letak kepala bayi ada di bagian bawah rahim), maka operasi sesar merupakan jalan keluarnya. Hal ini dilakukan karena dengan posisi tersebut bayi tidak bisa keluar spontan.

c. Kontraksl rahim tldak kuat
Kontraksi rahim yang kuat dan teratur diperlukan untuk membuka jalan lahir. Dengan kontraksi tersebut, leher rahim akan melunak dan membuka. Jika kontraksi tidak menguat dan ukuran pembukaan leher rahim tidak bertambah, maka dokter akan memberjkan obat yang dapat merangsang rahim berkontraksi.

Penyebab kelainan ini antara lain ibu anemia, kelelahan, atau bayi terlalu besar sehingga otot rahim teregang maksimal dan menjadi tidak sensitif terhadap rangsangan persalinan.

d. Persalinan macet

Persalinan macet dapat terjadi jika bayi “terjebak’ di jalan lahir. Saat itu, kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul, tetapi kesulitan melewati pintu bawah panggul. Penyebabnya bisa karena faktor anatomis panggul ibu atau sang ibu telah kelelahan sehingga tidak mampu mengejan dengan baik untuk mendorong bayi.

Tindakan yang dapat dilakukan tergantung pada seberapa jauh kepala bayi masuk dalam rongga panggul. Jika kepala bayi sudah terlihat dari vagina, artinya sudah dekat dengan “pintu keluar”. Tindakan “vaccum” dapat membantu menarik bayi keluar. Sebaliknya, jika letak kepala masih tinggi, maka operasi sesar merupakan pilihan.

e. Perdarahan

Saat ibu melahirkan, jumlah darah yang keluar dapat mencapai 500 ml. Jumlah tersebut normal.

Namun, perdarahan yang terjadi secara berlebihan akan membahayakan Jiwa. Perdarahan pada proses persalinan dapat terjadi karena letak plasenta rendah yang tidak diketahui sebelumnya, kontraksi rahim yang kurang baik pasca persalinan, atau plasenta yang melekat terlalu erat pada rahim.

Tindakan yang diberikan untuk mengatasi perdarahan tergantung pada penyebabnya. Jika kontraksi rahim tidak kuat, dokter akan memberikan obat yang menguatkan kontraksi rahim. Adapun antibiotik diberikan jika terdapat infeksi.

Bila penyebab perdarahan adalah sisa plasenta yang tertinggal pada rahim, dilakukan kuret rahim untuk mengeluarkan sisa plasenta tersebut.

6. Menyusui

Hari pertama persalinan, payudara sudah mulai mengeluarkan kolostrum, yakni ASI yang warnanya masih bening. Kolostrum ini kaya akan antibodi yang penting untuk daya tahan tubuh bayi, jadi jangan sampai dibuang. Secara bertahap warna Asi akan menjadi seputih susu.

Semakin sering ibu menyusui bayi, semakin cepat pula perdarahan rahim berhenti. Terdapat hubungan hormonal antara menyusui dan kontraksi rahim. Ukuran rahim akan menyusut kembali ke ukuran normal dalam 2-4 minggu pasca persalinan.

7. Menopause

Sekitar sepertiga kehidupan sebagian besar wanita dilalui setelah menopause. Menopause sebagai salah satu proses alamiah dalam tubuh wanita terjadi karena indung telur berkurang fungsinya dalam menghasilkan estrogen dan progesteron yakni hormon yang berperan dalam siklus meristruasi.

Akibatnya, siklus haid berakhir secara permanen. Menopause ditetapkan setelah seorang wanita tidak mengalami haid minimal 12 bulan. Menopause terjadi pada wanita usia 40-59 tahun, dengan rata-rata usia 51 tahun. Saat ini, terdapat kecenderungan usia menopause timbul lebih lambat sehingga masa reproduksi lebih panjang.

Sebelum menopause, seorang wanita akan mengalami masa pramenopause. Pada masa ini, siklus menstruasi mulai mengalami gangguan; dari yang semula setiap bulan akan jadi 2-3 bulan sekali.

Menopause dini dapat terjadi sebelum usia 40 tahun. Segera periksakan diri untuk mengetahui penyebab haid berhenti adalah menopause atau ada sebab lain yang mengganggu siklus haid.

Menupause dini dapat terjadi karena tinda kan pembedahan yang mengangkat kedua indung telur. Jika pembedahan hanya mengangkat rahim tanpa indung telur, haid tidak akan terjadi, tetapí tubuh wanita tersebut tidak mengalami tanda-tanda kekurangan hormon estrogen dan progesteron.

Pelembap alami vagina berkurang saat wanita mengalami menopause. Akibatnya, vagina menjadi kering dan menyebabkan nyeri pada saat berhubungan seks. Untuk mengatasinya dapat digunakan pelembap yang khusus untuk organ kewanitaan. Pastikan produk yang digunakan aman dan tidak menimbulkan alergi.

Selalu konsumsi buah-buahan dan makanan bergizi agar tetap dapat bugar meski telah memasuki usia menopause.

Itulah sedikit yang bisa saya bagikan untuk para pembaca tentang organ reproduksi wanita dan fungsinya, semoga dapat menambah pengetahuan kita semua. Terimakasih

Tulisan ini diambil dari buku “Panduan Lengkap Kesehatan Wanita” oleh Oleh dr. Wening Sari, dkk.

Post a Comment

0 Comments